LGBT dan Penjara Norma

Posting pertama saya untuk blog ini saya ambil dari status Facebook saya pada tanggal 21 Februari. Lama-lama saya gemes dengan perkembangan di Indonesia belakangan ini. Dulu masa SBY saya gemes soal korupsi, tapi setidaknya saat itu KPK kuat dan rakyat solid mendukung KPK. Sekarang berita korupsi gitu-gitu aja, tapi masalah hak asasi manusia seperti isu LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) misalnya, lah kok amburadul sekali penanganannya. Cenderung mendiskreditkan kelompok LGBT.

 

Saya melihat Jokowi bukan agen perubahan dan memilih diam, atau ikut isu populer, membiarkan maunya mayoritas rakyat terlepas itu ngawur apa enggak. Ini didukung pernyataan para pejabat di kabinetnya yang tidak kondusif dalam hal merespon LGBT. Berikut unek-unek saya di Facebook. Mungkin sudah telat isu untuk posting di sini, tapi lebih baik telat daripada tidak dipublikasikan sama sekali.

 

++++++++++++++++++++++++++++++++++

Saya tahu isu ini sudah lama di Indonesia dan mungkin sudah banyak yg capek bahas ini. Ini unek-unek aja, sudah tersimpan lama dan harus dikeluarkan (blog saya sayangnya bukan soal sosial, jadi mentok ini unek-unek keluar di Facebook pribadi).

Saya bekerja bertahun-tahun dengan rekan kerja hetero (kalau di Indonesia ada yang bilang sebagai orang normal karena berpasangan dengan yang jenis kelaminnya berbeda) dan LGBT di sebuah kantor di Den Haag. Bahkan saya satu ruangan dengan seorang lesbi. Kami berteman, dan akhirnya bersahabat. Beliau sering membantu saya ketika saya ada masalah. Beliau bukan satu-satunya LGBT dengan saya berteman, masih ada beberapa teman saya yang juga LGBT, yang biasanya sering berdiskusi bersama, dan beraktivas normalnya pertemanan. Pemikiran kami nyaris sama, mulai dari kehidupan rumah tangga, peri-kebinatangan hingga masalah pengungsi di Uni Eropa.

Selama kami bersahabat, tidak ada pemaksaan dari mereka untuk menjadikan saya seorang LGBT. Saya tetap heteroseksual, punya suami, sudah lebih dari 10 tahun ini dan hidup kami bahagia. Bila ada ahli Indonesia yang dibilang LGBT menular atau sakit jiwa, bisa saya katakan 100 persen salah besar. Kok saya ini gak ketularan juga dan apakah orang sakit jiwa bisa punya pandangan pengungsi dari negara-negara Islam yang berkonflik harus mendapatkan perlindungan dari Uni Eropa?

LGBT adalah manusia sama seperti saya, dan kalian yg heteroseksual. Mereka punya perasaan dan paham kalau masih banyak umat manusia di dunia yang membenci keberadaan mereka (tanpa memahami secara mendalam siapa mereka). Kalaupun ada kampanye #proLGBT , itu untuk membantu mereka yang selama ini menutup diri. Untuk menunjukkan masih ada manusia-manusia yang punya kasih atas keberadaan mereka, bukan pembenci. Agar mereka tidak merasa terkukung. Agar mereka dan masyarakat bisa keluar dari “penjara norma” yg selama ini melarang mereka untuk menjadi dirinya sendiri. Untuk keadilan agar manusia dapat mencintai dan hidup bersama pasangannya terlepas orientasi seksualnya.

Dan kampanye pun dianggap sebagai propaganda untuk merekrut LGBT (terimakasih spesial untuk Jusuf Kalla berkaitan hal ini). Merekrut gimana kalau memang sudah ada tapi berada dalam penjara norma? Apakah memang lebih baik berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri sendiri? Itukah yang di-inginkan Indonesia?

Apa sebenarnya nilai Ketimuran? Nilai yg menjunjung tinggi untuk berpura-pura-kah? Nilai yang mewajibkan semua manusia Indonesia menjadi heteroseksual kah?

Ada individu heteroseksual dengan perilaku menyimpang: yang memperkosa perempuan, orangtua hetero yang mukulin dan menelantarkan anaknya (ada kasus hingga anak meninggal), yang koruptor milyaran rupiah, atau politisi yang memukul staf perempuan dan tetap dilindungi oleh partainya. Bagaimana kalau diputar balik: apakah karena mereka heteroseksual sehingga mereka melakukan tindakan menyimpang seperti itu?

Bagi yang masih susah menerima LGBT, mohon direnungkan kembali, apa yang merugikan kalian dari rekan manusia LGBT? Karena pandangan LGBT tidak bisa masuk surga bersama kalian? Kalaupun ini buntutnya adalah masalah surga, biarkanlah yang di surga yang menentukan itu, bukan kalian.

Berikan LGBT hak mereka untuk hidup selayaknya manusia hetero. Karena sama seperti anda, mereka sebenarnya adalah manusia normal.

Menunggu
Menunggu
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s