Alasan Pindah Kewarganegaraan

Che, dari Argentina, pahlawan di Kuba, ikon yang mendunia

Isu menteri di kabinet Jokowi berkewarganegaraan Amerika Serikat menghangat di Indonesia. Kalau baca komentar di media online seringkali ada komentar yang mengkaitkan masalah pindah kewarganegaraan dgn kesetiaan kepada tanah air. Apakah iya orang Indonesia yang pindah kewarganegaraan berarti tidak setia pada Indonesia?
Sebagai orang Indonesia yang sudah lebih dari 10 tahun menetap di luar negeri dan memilih tidak pindah kewarganegaraan, saya tidak pernah berprasangka teman atau kenalan saya pindah kewarganegaraan karena tidak setia atau tidak cinta lagi pada Indonesia.

Bila ditilik lebih mendalam, kepedulian mereka akan Indonesia masih tinggi setelah pindah kewarganegaraan. Bisa dilihat dari rajinnya mereka mengikuti berita di Indonesia, ngajarin anaknya berbahasa Indonesia, lebih milih liburan ke Indonesia daripada ke negara lain (gak kayak saya) atau aktif dalam penggalangan dana kemanusiaan ketika Indonesia mengalami bencana.

Kalau peduli kenapa juga pindah? Alasan mereka lebih menilik ke masalah pribadi tapi secara garis besar saya bisa kategorikan sebagai berikut:

1. Tidak bisa menikah dan hidup bersama dengan pasangan yg mereka cintai


Ini terutama bagi orang Indonesia yang memiliki pasangan hidup sesama jenis kelamin. Kemungkinan mereka untuk menikah berdasarkan hukum negara demi perlindungan mutlak sebagai suami-suami atau istri-istri tidak mungkin didapatkan di Indonesia. Negara seperti beberapa negara bagian di Amerika Serikat, Kanada dan beberapa negara di Eropa memungkinkan pernikahan sesama jenis kelamin. Pengakuan negara untuk pernikahan sesama jenis ini sangat penting bagi mereka.

2. Memudahkan administrasi kenegaraan


Mengurus ijin tinggal di negara asing itu ribet dan lebih parah dari ngurus aplikasi visa turis. Kadang kami harus mengisi formulir dalam bahasa asing dan bahasa hukum pula. Ada negara yang mewajibkan ijin tinggal diperbaharui tiap tahun, tapi ada juga yang tiap enam bulan. Intinya: ribet! Saya belum ngomong soal pajak setempat dan lainnya.

Biasanya setelah lima tahun berturut-turut tinggal di suatu negara, bisa mengajukan aplikasi sebagai Permanent Resident (PR) atau pindah kewarganegaraan. Ada yang udah capek ngurus kayak gini dan akhirnya milih ganti paspor. Yang masih tabah seperti saya, milih mempertahankan kewarganegaraan dengan jadi PR namun dengan berbagai resiko.

3. Sulit untuk beradaptasi kembali dengan budaya dan kebiasaan di Indonesia


Kadang kita beradaptasi dan menjadi pelaku budaya, kebiasaan dan pola pikir di lokasi yang kita tinggali walaupun berbeda dengan budaya dan kebiasaan asal. Misalnya waktu saya tinggal di Belanda, saya menjadi terbiasa untuk tepat waktu ketika janjian dengan teman, orang Belanda bisa sewot kalau terlambat walaupun janjian sesama teman. Kalau terlambat biasanya sudah informasi jauh-jauh waktu. Ketika tinggal di Amerika Serikat, saya kaget ternyata budaya tepat waktu antar teman nyaris sama dengan Indonesia alias doyan jam karet tanpa informasi pendahulu sebelum waktu janjian. Telatnya pun bisa lebih dari setengah jam-an!

4. Memudahkan penghasilan

Pengalaman kerja saya berkaitan dengan organisasi internasional dan regional seperti United Nations, ASEAN dan sejenisnya. Ketika saya di Belanda, sebagai warga negara Indonesia, saya tidak bisa melamar kerjaan di organisasi dalam lingkup Uni Eropa karena saya bukan warga negara Eropa. Padahal organisasi di bawah Uni Eropa ini lumayan banyak lowongan kerja yang sesuai keahlian saya. Organisasi Internasional yang bisa menerima saya sebagai WNI ketika saya di Belanda sangat terbatas kalau saya ngotot untuk meneruskan karir yang telah dirintis di Indonesia.

Selain itu adakalanya lebih mudah untuk berwiraswasta ketika menjadi warga negara setempat.

5. Sulit untuk kembali menetap di Indonesia


Ini proses dalam kehidupan, bisa dimulai dari kerja atau kuliah di luar negeri atau bertemu pasangan WNA. Dan akhirnya membeli rumah di negara luar Indonesia dan beranak pinak hingga punya cucu. Semakin hari semakin menyulitkan untuk pindah dan memulai hidup baru di Indonesia. Pindah negara itu gak gampang apalagi kalau ada properti dan anak.

Selain itu bisa pula karena faktor kesehatan dan negara yang ditinggali memberikan pelayanan kesehatan yang lebih memadai daripada Indonesia.

🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐

Saya yakin masih banyak alasan lain yang menyebabkan WNI pindah kewarganegaraan. Gak semua melulu karena uang. Dan pilihan untuk pindah terkadang tidak semudah yang dikira. Seorang kenalan yang akhirnya pindah kewarganegaraan di usia 50 tahunan bercerita; di malam sebelum hari upacara kewarganegaraan barunya, beliau sedih bukan kepalang dan memikirkan untuk membatalkan hadir. Tapi di satu sisi bagi beliau, sudah tidak memungkinkan kembali ke Indonesia karena berbagai alasan, mulai dari kesehatan hingga anak-anaknya yang menjadi warga negara setempat. 

Terlalu sempit mengkaitkan kepindahan kewarganegaraan seseorang dengan kesetiaan kepada Indonesia. Saya mempertahankan kewarganegaraan Indonesia bukan untuk bukti kesetiaan atau kecintaan dengan Indonesia tapi karena kewarganegaraan ini masih menjadi ‘comfort zone’ bagi saya. Susah mendeskripsikannya.

Bila dikaitkan dengan isu Pak Menteri yang kemungkinan WNA, lebih baik jangan dihakimi sebagai bentuk penghianatan atau sampai ada isu penyusupan intel asing di kabinet. Iya, beliau salah besar bila memiliki paspor Amerika Serikat tapi tidak menginformasikan ke Presiden ketika terpilih nenjadi menteri. Tapi setia, cinta Indonesia atau tidak, tidak bisa diukur hanya dengan mempertahankan atau melepas kewarganegaraan Indonesia.

Dirgahayu Indonesia dimanapun kita berada. Salam dari La Isla Bonita.

Advertisements

One comment

  1. suka bgt dg artikel ini. terus terang sy mempunyai kegalauan tingkat akut, tentang kewarganegaraan. Disatu sisi, saya ingin mempertahankan status WNI , takut nanti terjadi sesuatu yg tidak terduga, terlebih keinginan suami yg ingin berbisnis di indo. Tetapi, terus terang sya , terakhir ke indonesia, bnr2 dikecewakan dg pelayanan aparat indo. Bagaimana saya di LN, mendapatkan fasilitas dan pelayanan yg baik, dinegara sendiri, bagai orang asing, ironis memang. Disisi lain, pekerjaan saya yg mapan disini, keluarga yg baik, kenyamanan tinggal disini , serta kemudahan dlm hal visa dan bepergian., membuat saya ingin meninggalkan status WNI saya…..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s