Bigot bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah “fanatik”. Saya kira makna bigot dalam bahasa Inggris lebih mendalam dari hanya sebagai fanatik terjemahan bahasa Indonesia. Menurut Merriam-Webster, bigot berarti membenci dan menolak seseorang atau kelompok tertentu berdasarkan ras, agama atau perbedaan ide dan menjadikan mereka tidak memiliki toleransi terhadap perbedaan. Intinya, bigot biasanya gak bisa dikritik dan merasa kepercayaan dan idolanya yang paling benar.

bigot

Gak dipungkiri, bigot hadir dalam masa kampanye dan dunia politik, ya seperti sekarang pada masa kampanye cagub DKI Jakarta. Telah terbentuk kelompok Anti Ahok (aka: hatersversus Ahokers. Kalau di Amerika Serikat yang sedang pilpres, lebih terbagi dari berbagai kelompok, tapi yang menonjol adalah kelompok pendukungnya Donald Trump – GOP/Republican (DT), Hillary Clinton – Democrat (HC), dan Liberals. Di Amerika Serikat ada Partai Liberal dan punya capres sendiri.  Tapi sayangnya pengetahuan politik luar negeri capres dari Partai Liberal ini minim. Sempat ditanyain jurnalis tentang Aleppo (Suriah) dan beliau gak tahu, tapi entah kenapa partainya bisa punya kebijakan akan membantu pengungsi Suriah.

Nah, balik lagi ke bigot. Yang kadang bikin seru dalam kampanye, biasanya bermunculan pendukung di media sosial dengan semangat 45 membela politisi idolanya sampai-sampai melupakan fakta, logika dan data. Gak rasional. Kampanye yang idealnya hanya fokus ke isu-isu yang menjadi masalah masyarakat jadi berubah menjadi kampanye gak sehat untuk mendiskreditkan lawan. Akhirnya menjadi bigot. Berikut contoh-contoh perilaku bigot yang bisa ditemui dalam masa kampanye politik:

Pertama: Tidak mau menerima seseorang atau kelompok tertentu karena perbedaan keyakinan, etnis, ras, atau gender 

Entah kenapa, sudah ribuan tahun peradaban manusia di dunia ini, masih saja ada kelompok masyarakat yang menolak (calon) seorang pemimpin karena berbeda agama, suku, ras, dan bahkan jenis kelamin. Di Amerika Serikat misalnya, ini terjadi pas masa pilpres Barrack Obama. Biar penolakannya gak keliatan rasis, dikembangkan isu-isu aneh dan gak relevan seperti keabsahan kelahiran Obama yang digosipkan bukan di Amerika Serikat.

Di Indonesia, pemilihan pemimpin di daerah maupun nasional biasanya muncul isu soal perbedaan agama si calon pemimpin dengan mayoritas pemilih. Ya kayak kasus Ahok saat inilah. Apakah penolakan model kayak gini akan sukses? (Harapan saya) rata-rata orang Indonesia masih waras dan rasional seperti halnya warga Amerika Serikat yang akhirnya memenangkan Presiden Barrack Obama.

Kedua: Menuduh mereka yang beragumen dan kritis berasal dari kelompok tertentu dan mewakili kepentingan kelompok tersebut. 

Saya pernah nulis komentar kritik terhadap Ahok di salah satu media berita online dan dalam beberapa menit, komentar saya diserang tapi nyerangnya lebih penuduhan ketimbang menjawab kritikan saya. Dituduhlah saya ini sebagai kelompok haters  dan bahkan ada yang bilang saya idiot hater  yang gak mau Jakarta menjadi seperti Singapura. Waktu itu komentar saya mempertanyakan kemanusiaan dan target jangka panjang dari penggusuran (kalau versi Ahok adalah “relokasi”). Bila di masa Foke, lahan gusur biasanya ada unsur kepentingan pemilik modal, sementara lahan gusur masa Ahok, keliatannya akan digunakan untuk kepentingan publik. Gak heran bila Ahok dapat dukungan lebih besar untuk mengusur, dukungan terutama dari kelas menengah yang mulai meningkat jumlahnya sejak masa SBY. Siapa peduli penduduk ilegal toh?

Saya bersimpati terhadap masyarakat yang tergusur dan dianggap penduduk ilegal ini. Penggusuran ke rusunawa hanyalah relokasi kemiskinan tanpa menjawab permasalahan kemiskinan kota itu sendiri sementara faktanya kesenjangan ekonomi di Jakarta semakin melebar (sumber). Tanpa solusi akses ke pekerjaan, dan sarana untuk mandiri, bagi mereka yang tergusur, kemiskinan itu akan kembali dalam bentuk baru di masa mendatang.

Ngeselinnya nulis kritikan untuk membangun, bersimpati karena sesama warga Indonesia eh malah dituduh haters. Ada aktivis yang dari jaman Foke konsisten kritis, peduli dan punya pehatian terhadap perkembangan Jakarta, mereka ini pun dibungkam dengan metode dukungan seperti ini, dianggap haters-lah, pembela koruptor-lah (yang paling nyebelin kalau ada komentar, yang bilang Hak Asasi Manusia is Bull-Shit, pandangan HAM is BS itu beda-beda tipis dengan Donald Trump yang bilang Perubahan Iklim adalah hoax buatan Cina).

Ketiga: Beropini tanpa logika, tanpa dukungan fakta, atau data yang valid

“I don’t know it for a fact, I just know it’s true.”  Ini kritikan Bill Maher di acara TV Show-nya. Pas banget bisa dikaitkan dengan kampanye di Amerika Serikat baik dari perilaku para pendukung maupun politisinya. Misalnya seperti video wawancara The Daily Show dengan beberapa pendukung DT. Jadi lucu nonton wawancara seperti ini karena gak ada fakta yang membuktikan opini atau kenyataannya gak seperti yang diopinikan.

Saya yakin banyak contohnya di Indonesia soal ini, mereka yang beranggapan opininya paling benar terlepas kenyataan, fakta dan data berbicara lain. Kadang opini menggunakan fakta yang dipaksakan yang gak bisa dipertanggungjawabkan validitasnya, sampai-sampai ada istilah cocoklogi 😀

…….. 

Hm, apalagi ya? Ada yang mau nambahin?

 

 

Advertisements