Enam Catatan Debat Capres Amerika Serikat

Akhirnya berhasil menonton tiga debat capres Amerika Serikat. Walaupun di debat ketiga, yang terakhir, saya sempet gak tahan nontonnya. Gak tahan denger jawaban kandidat Donald Trump, bikin emosi jiwa padahal bukan warga negara Amerika Serikat..hahahaha..

debat-ketiga
Mungkin nontonnya mesti kayak gini 😀

Debat capres kali ini memang lumayan seru dan mungkin karena ada faktor Trump yang kontroversial dan ngomong se-enaknya, kadang jauh dari fakta dan data. Tapi yah, inilah pil pahit dari demokrasi, semua orang bisa mencalonkan diri sebagai presiden bila punya pendukung.

Sebelum saya ngalor ngidul ngedumel kepanjangan soal Trump dan demokrasi, berikut catatan dari debat capres yang menarik untuk disimak..

Organisasi Penyelenggara Debat adalah Bentukan Partai

Debat capres di Amerika Serikat diorganisir oleh Commission on Presidential Debates yang awalnya dibentuk oleh Partai Demokrat dan GOP (Partai Republikan). Komisi independen non profit ini sebenarnya membuka peluang kandidat presiden dari luar Partai Republikan dan Partai Demokrat untuk turut berdebat selama mereka dapat dukungan minimal 15% dari polling pemilih. Inilah yang menyebabkan capres dari Partai Hijau dan Partai Liberal gak bisa ikutan, karena prosentase pemilihnya gak nyampe 15%. Yah, emang bisa dibilang demokrasi setengah hati.

Diselenggarakan di Universitas di Berbagai Negara Bagian

Ini yang saya paling suka dari debat ini, lokasinya berpindah-pindah kota/negara bagian tapi tetap konsisten selalu di universitas setempat dan melibatkan mahasiswanya. Selain bagus buat sosialisasi politik untuk generasi muda, negara bagian juga mendapat tempat untuk dikenal secara nasional.

Debat pertama diselenggarakan di Hofstra University, Hempstead/NY; debat kedua diselenggarakan di Washington University, St. Louis/MO; dan debat ketiga diselenggarakan di University of Nevada-Las Vegas, Las Vegas/NV. Sementara debat wakil capres diselenggarakan di Longwood University, Farmville/VA.

Moderator Debat adalah Jurnalis Ternama dari Stasiun Televisi

Memang kalau dipikir, gak perlu profesor atau doktor buat mandu acara debat capres. Di sini, jurnalis berita ternama biasanya memiliki kemampuan analisa, dan terbiasa jadi moderator debat di acaranya. Selain itu mereka dekat dengan isu-isu politik dan kebijakan terbaru.

Selain itu jurnalis di Amerika Serikat rata-rata cukup adil dalam komposisi jender ketika mereka mengundang pembicara dalam acara diskusi mereka. Pembicara perempuan banyak banget yg diundang buat berdiskusi. Gak kayak jurnalis di Indonesia yang entah kenapa pembicara-nya selalu mayoritas laki-laki – sampe2x saya jadi males nontonnya. Sebagai perempuan saya merasa tidak terwakili dalam berita beropini di Indonesia dan isi pemikiran diskusi ya itu2x, gak ada perspektif perempuannya (maaf, sekalian numpahin unek-unek gak penting).

Jurnalis yang maju sebagai moderator untuk debat capres dan cawapres kali ini bukan jurnalis sembarangan, mereka adalah: Lester Holt (NBC Nightly News); Elaine Quijano (CBS news correspondent); Martha Raddatz (ABC News Chief); Chris Wallace (The Fox News) dan favorit saya: Anderson Cooper (CNN – Anderson Cooper 360°).

Kebayang gak kalau jurnalis Najwa Shihab atau Karni Ilyas yang jadi moderator debat capres di Indonesia?

Calon Pemilih Bisa Berpartisipasi Langsung Dalam Debat Capres

Ada kesempatan bagi calon pemilih untuk menyumbangkan pertanyaan. Di debat kedua, bentuk diskusinya adalah Townhall (tanya jawab langsung sama pemirsa). Terpilihlah beberapa orang untuk bertanya langsung ke capres di lokasi dan pertanyaan lewat media sosial.

Ken Bone
Malam ini..lahirlah seorang bintang. Dunia, inilah Kenneth Bone. Ken Bone, inilah dunia..

Ada penanya yang akhirnya ngetop se-Amerika karena townhall ini. Namanya Ken Bone. Selain karena pertanyaannya bagus, sweater merahnya ala natalan menonjol. Berikut ini pertanyaan Ken Bone:

“What steps will your energy policy take to meet our energy needs, while at the same time remaining environmentally friendly and minimizing job loss for fossil power plant workers?”

(Apa langkah kebijakan energi anda untuk memenuhi kebutuhan energi kita, ketika di saat yang sama, tetap mengusung keramahan lingkungan dan mengurangi kehilangan pekerjaan bagi pekerja di sektor pembangkit listrik tenaga fosil?)

 

Popularitas Ken Bone muncul karena pertanyaannya yang membawa unsur lingkungan hidup, sumber daya energi dan tenaga kerja, hal-hal yang sepertinya jadi topik anak tiri di kampanye kali ini. Sepertinya kebanyakan pemilih di Amerika Serikat mulai capek dengan topik imigrasi, pengungsi, Islamphobia, kebebasan memiliki senjata api, e-mailnya Hillary Clinton dan pelecehen seksual Trump.

Lucu-Lucuan Debat Capres Mengurangi Emosi

Pemilihan presiden di Amerika Serikat sama hebohnya dengan di Indonesia ketika pilpres Jokowi dan Prabowo. Walaupun gak senorak Indonesia yang dipenuhi spanduk dan pamflet di mana-mana. Tapi saya inget bener masa kampanye itu masa penuh emosi di Facebook dan Twitter. Ketika berpihak pada kubu tertentu bisa menyebabkan perpisahan teman. Inget toh masa-masa itu?

Nah, sama halnya orang di sini juga kok. Cuman ada yang dewasa dalam berpolitik dan lebih memilih membuat lelucon politik soal debat di media sosial. Ada yang netral, ada yang pro kandidat. Misalnya polisi di Kansas ini…

Topik lelucon di media sosial berkisar soal kualitas debat Trump lawan Hillary. Kebanyakan sih lelucon soal Trump. Seperti Trump yang kerap mendengus selama berdebat; kebiasaan Trump yang memotong jawaban Hillary; atau kelakuan Trump yang mengintimidasi Hillary dengan selalu berada di belakang Hillary di debat kedua. Dan ketika Trump menjawab pertanyaan soal Islamphobia, bahwa orang Islam mesti lapor kalau tahu kasus,  langsung tweet ini muncul dan populer..

Di debat ketiga, debat ‘finale’, Hillary menuduh Trump sebagai “puppet“-nya Putin, dan diperparah dengan gaya Trump yang seperti anak ngambek menolak tuduhan Hillary. Tapi yang paling seru muncul reaksi di media sosial mengkritik pernyataan Trump yang menghina warga Amerika Latin dengan sebutan bad “hombres”. Hombres bahasa Spanyol berarti laki-laki dan bad hombres berarti laki-laki jahat. Trump dicela-lah soal pengucapannya yang seperti menyebutkan “ombre” – yang merupakan model cat rambut dengan warna terang di ujung rambut dan warna gelap di atas kepala.

Selain itu ada acara komedi dari Saturday Night Live (SNL) yang merangkum debat setiap hari Sabtu malam. Sudah ada tiga episode termasuk debat cawapres. Tinggal nunggu seri komedi tentang debat yang terakhir akhir pekan ini. Dari yang sudah ada, saya paling suka rangkuman SNL soal debat capres yang kedua.

Debat Capres Ditonton oleh 84 Juta Pemirsa Televisi

Acara debat dilangsungkan 90 menit, non-stop tanpa iklan. Debat Capres pertama ternyata menjadi acara dengan jumlah penonton terbesar dalam sejarah politik Amerika Serikat: 84 juta pemirsa! Dan angka ini hanya berdasarkan jumlah pemirsa televisi, belum lagi pemirsa yang nonton melalui media online seperti Facebook.

Intinya, kandidat presiden kontroversial memang menarik perhatian termasuk untuk ditulis di blog ini 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s