Pertama-tama, saya berterimakasih atas keberanian Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, yang konsisten untuk menangkap basah para pelaku penangkapan ikan ilegal dan bahkan meledakan kapal-kapal penangkapan ikan yang beroperasi secara ilegal. Sebagai pecinta laut, saya suka berat dengan aksi ini. Saya sudah tidak makan ikan beberapa tahun terakhir (dan kadang rindu makan pempek ūüėÄ ) sebagai aksi peduli laut. Semakin berkurang kapal penangkapan ikan, semakin baik laut dunia dan para penghuninya, bahkan bagi nelayan-nelayan, mungkin mereka gak perlu pusing lagi bersaing sama kapal pengangkapan ikan kelas kakap dan bisa memulai usaha sendiri. Sekali lagi, terimakasih untuk Ibu Susi atas keberaniannya dan semoga terus menghancurkan kapal-kapal ikan kelas kakap yang menjarah, merusak habitat penghuni laut. Kalau bisa sih, kapalnya dijadiin monumen dive site di laut, Bu. Lumayan dulunya kapal ngebunuhin ikan dan merusak terumbu karang tapi bisa dijadiin rumah ikan-ikan di laut…ok, itu topik lain.

Kembali ke topik yang saya ingin bahas, sejujurnya, saya gak setuju dengan kampanye Ibu Susi untuk makan ikan karena negara kita sendiri belum bisa menjamin ikan hasil tangkapan yang mendukung keberlangsungan lingkungan laut Indonesia yang sehat. Beberapa hari yang lalu saya baca soal ributnya Ibu Susi dan Bapak Luhut, sebagai Menko bidang Kemaritiman. Pak Luhut mempertanyakan apa selanjutnya yang akan dilakukan oleh Ibu Susi (sumber:¬†Susi Sukses Berantas Illegal Fishing, Luhut: What’s Next?). ¬†Yang lucu dari artikel ini sebenarnya pernyataan Pak Luhut kalau ikan tidak punya agama atau negara dan bisa berpindah sana sini (migrasi) jadi kita mesti segera nangkap mereka saat di lautan Indonesia.

Kenapa sih Pak Luhut ini napsu banget menangkap ikan? Apa ini berhubungan dengan kampanye makan ikan? Penghuni laut itu sebenarnya wild life loh, mereka ibarat gajah, atau orang utan di hutan. Apa iya Pak Luhut mau nangkepin dan makan gajah atau orang utan buat konsumsi manusia? Kenapa harus ikan – wild life yang dikorbankan? Kita gak tahu persis jumlah ikan di lautan itu berapa, siapa yang bisa tahu persis berapa jumlah manta ray atau ikan hiu atau ikan napoleon di lautan Indonesia? Manusia di daratan susah dihitung, apalagi di lautan yang sebagian besar warga Indonesia aja gak bisa berenang di laut.

Penangkapan ikan di Indonesia masih bermasalah mulai dari peraturan sampai ke pengawasan. Ibu Susi hebat sudah nangkepin kapal-kapal penangkapan ikan ilegal. Beliau juga hebat berani memutuskan peraturan melarang cantrang (trawl) di tahun 2015 tapi sayangnya pelaksanaannya diundur terus menerus hingga tahun 2017 ini (sumber). Cantrang mengeruk gak hanya terumbu karang tapi juga penghuni laut yang bukan target penangkapan. Ibaratnya kalau diterapkan di daratan jadinya seperti video di bawah ini:

 

Penangkapan ikan skala besar juga biasanya mubazir, berdasarkan penelitian the Black Fish, LSM yang peduli laut, 40 persen dari penangkapan ikan dibuang lagi ke laut dan mereka rata-rata udah pada mati atau terluka. Berikut ini film yang menjelaskan seperti apa itu praktek penangkapan ikan dunia kelas besar.

 

Belum lagi masalah nelayan Indonesia sendiri yang gak punya alternatif lain selain melalukan penangkapan ikan yang sifatnya merusak ekosistim laut. Nelayan Indonesia masih pakai dinamit dan bahan kimia yang merusak terumbu karang.  Jadi saya bisa membayangkan kerjaan Ibu Susi lumayan pelik. Saat ini sudah ada sosialisasi dan bantuan untuk menggantikan model penangkapan ikan yang merusak. Saya gak tahu sosialisasinya sudah sejauh mana tapi yang pasti peraturan cantrang masih terus diundur eksekusinya. Memberikan wawasan dan pengetahuan bagaimana memancing ikan seharusnya tapi tanpa memberikan kail untuk memancing yang benar ya bisa kontraproduktif juga. Saya berharap pelarangan cantrang segera dieksekusi karena laut tidak bisa lagi menunggu.

 

Nah, bila dikaitan dengan kampanye ikan dan nangkep ikan, sebenarnya terdapat 158 jenis ikan yang aseli warga Indonesia (pribumi kalau manusia – ūüėÄ ) yang terancam kepunahannya (sumber). Jumlah ini memprihatinkan. Menurut World Atlas, nyaris lenyapnya ikan-ikan tersebut di lautan Indonesia karena penangkapan ikan yang berlebihan (overfishing), perubahan iklim dan penggunaan dinamit dan kimia untuk menangkap ikan.

Source: Coral Reefs: Past, Present and Future

Pertanyaan selanjutnya,¬†ada yang tahu gak ikan aja yang nyaris punah di Indonesia? Apakah mereka juga disebut sebagai bagian kampanye mari makan ikan atau kampanye mari menangkap ikan (maaf, kampanye menangkap ikan gak ada, saya sarkastik di sini)? Boleh makan ikan tapi jangan makan ikan jenis ini, misalnya. Melalui Google, saya menemukan artikel dari Kompas yang menulis keprihatinan WWF Indonesia –¬†Terancam Punah, Hindari Hidangan Laut Ini untuk Dikonsumsi. ¬†Untungnya WWF punya Seafood aplikasi yang bisa membantu memonitor apakah ikan tersebut terancam populasinya atau tidak. Untuk di Indonesia dan juga dunia, ikan tuna sebenarnya dalam posisi terancam kepunahannya. Masalahnya bila mereka punah, maka ekosistim laut pun terpaksa berubah. Perubahan ini gak akan berarti positif bagi keberlangsungan laut yang sehat.

Memang manusia itu mahluk yang paling jelimet, bikin kampanye supaya pada makan ikan tapi proses penangkapan ikannya sebenarnya masih kacau dan sama buruknya dengan peternakan. Dan berkaitan dengan penyataan Pak Luhut kalau secepatnya kita mesti nangkap ikan di wilayah Indonesia, karena mumpung mereka lagi di Indonesia, ini kok sempit banget berpikirnya. Kalau kita lihat peta dunia, kita bisa lihat sendiri bagaimana planet ini disatukan oleh lautan. Lautlah yang menghubungkan benua satu sama lainnya. Tidak ada batas di laut, manusia yang membuat batas. Masalah limbah nuklir di lautan negara Jepang bisa menjalar sampai ke lautan-nya Hawai’i yang notabene wilayah kedaulatan Amerika Serikat. Di satu sisi, kalau ada lautan di suatu wilayah negara yang sehat dan melindungi warga lautan seperti ikan paus, manta ray, ikah hiu dan lainnya, gak dipungkiri akan membantu kondisi laut yang saat ini tengah sekarat. Mungkin manta ray diburu di lautan Cina, tapi manta ray memiliki lokasi aman di lautan Indonesia, yang memungkinkan mereka berkembang biak dan sukur-sukur gak migrasi. Jadi, masalahnya bukan kebiasaan migrasi penghuni lautan, tapi apakah kita peduli akan laut dan penghuninya demi ¬†keberlangsungan planet ini.

Buat Pak Luhut, sebaiknya sabar dulu soal nangkep ikannya, beresin dulu proses penangkapan ikan yang masih gak sehat dan Ibu Susi, mungkin kampanye makan ikan-nya ditahan dulu sampai proses penangkapan ikan di Indonesia dibenahi secara tuntas. Oh ya, jangan lupa, Bu, sosialisasikan terus jenis ikan-ikan yang nyaris punah biar orang Indonesia gak salah makan atau nangkep ikan..

Rekomendasi Bacaan:

Should you stop eating fish? – by Ideas Ted

Advertisements