Sudah jadi berita dunia bila kini Amerika Serikat dalam periode pemilihan presiden (pilpres) ke 45, untuk menggantikan Barrack Obama. Selain dua capres terkenal: Hillary Clinton (Demokrat) dan Donald Trump (Republikan), sebenarnya ada tiga orang capres lagi: Gary Johnson, Jill Stein dan Darrell Castle. Tapi ya, berita soal pilpres di Amerika Serikat lebih banyak didominasi oleh Hillary dan Donald. Materi yang paling seru dibahas biasanya soal imigrasi dan pengungsi. Pernyataan tidak bersahabat dari Donald Trump terhadap Imigran dari Meksiko dan Muslim menjadi topik berita berhari-hari di awal kampanye. Gak selesai di awal kampanye, topik ini terus bergulir hingga detik ini. Komentar pembaca bisa sampai ribuan di media online (terutama Yahoo.com). Menilik komentar pembaca, sebenarnya bisa terlihat gak semua warga Amerika Serikat setuju dengan pandangan Donald Trump. Opini terbelah, masih banyak yang rasional tapi tetep aja bisa senewen baca komentar yang buntutnya rasis dan diskriminatif.

trump-hipocrisy

Pada akhir pekan 17-18 September, Amerika Serikat digoncang tiga aksi teror di lokasi berbeda. Pertama, kasus penusukan secara random di sebuah mall di kota St. Cloud di negara bagian Minnesota (jaraknya sekitar 1 jam-an dari kota tempat saya tinggal sekarang, Minneapolis). Sekedar informasi, St. Cloud ini dikenal banyak masalah diskriminasi terhadap kelompok masyarakat Somalia sebelum kasus penusukan (baca: St. Cloud is the worst place in Minnesota to be Somali). Kedua, bom di New York. Dan yang ketiga, bom di stasiun kereta di New Jersey. Ketiga insiden ini dilakukan oleh orang berbeda tapi dengan profil yang nyaris sama: laki-laki, warga Amerika Serikat hasil naturalisasi, punya latarbelakang dari keluarga imigran/pengungsi dan masih muda (generasi ke dua). Tidak ada korban jiwa tapi identitas pelaku yang berasal dari Somalia (kasus di Minnesota) dan Afganistan (kasus di New York dan New Jersey) menjadi perhatian utama.

Minnesota dikenal di Amerika Serikat sebagai negara bagian penerima pengungsi dari Somalia yang mayoritas beragama Islam. Di tahun 2014, sembilan orang asal Somalia di Minnesota ditangkap FBI karena keterlibatan dengan ISIS dan berniat untuk berperang di Suriah. Sejak itu, kasus “hate crime” terhadap warga Muslim kerap bermunculan di Minnesota dan gak cuman di St. Cloud. Kemarahan orang Eropa-Amerika (aka Amerika Serikat berkulit putih) akan sembilan orang Somalia ikut ISIS ditumpahkan ke mereka yang gak ikut-ikutan.

Dari sisi masyarakat Somalia sendiri, sebenarnya sudah ada upaya untuk menghentikan pengaruh ISIS di komunitas mereka dan agar berintegrasi dengan masyarakat Amerika. Salah satunya melalui pembuatan video kartun Average Mohamed yang diproduksi oleh Mohamed Amin Ahmed. Dia membiayai sendiri produksi videonya, padahal kerjaan sehari-harinya di pompa bensin.

Pemerintah dan politikus di Minnesota juga gak ketinggalan, mereka berkampanye “It’d be Un-Minnesotan” yang intinya agar tidak hanya berdiam diri ketika ada yang menghina warga Muslim di depan mata, menjaga toleransi dan mengingatkan nilai-nilai seorang Minnesota yang mengedepankan kebaikan.

Pas kampanye ini baru keluar, dalam semingguan itu, saya sempet ditanya beberapa kali oleh orang Eropa-Amerika yang berpapasan di jalan, apakah saya seorang Muslim, padahal saya gak pake jilbab. Ketika saya balik kenapa menduga saya beragama Islam, mereka mengira saya dari Indonesia atau Malaysia. Ini juga bisa jadi catatan buat teman-teman, dari wajah dan kulit warna saja, agama kita bisa dihakimi. Konyolnya, ketika saya bilang saya bukan seorang Muslim, ada yang gak percaya dan komentar, “It’s okay if you are a Muslim, I respect your religion.” Atau ada lagi komentar, “So you are not a Muslim but you are Indonesian. Is it the reason why you move to our country?”  Halah…

ctyp_7a377d_strib_ad

Dan sepertinya peristiwa penusukan di St. Cloud baru-baru ini menjadikan sentimen anti pengungsi dan Muslimphobia berkembang lagi. Pagi ini saya baca berita ada bisnis yang membuat papan yang tidak menginginkan Muslim di bisnisnya di Minnesota. Komentar pembaca yang mengutuk perbuatan diskriminatif dibalas komentar pembaca yang membenarkan tindakan diskriminatif ini. Udah kayak baca transkrip debat kusir.

Kalau sudah begini ya akhirnya kebencian jadi melingkar: aksi kejahatan dan kebencian seorang manusia karena gagal berintegrasi dibalas dengan kebencian terhadap komunitas tertentu. Politisi macam Donald Trump malah membakar semangat kebencian tersebut (baca: Donald Trump tweets condolences to St. Cloud victims, says: ‘We can’t let any more people come into this country’).  Saya cuman bisa berharap agar kebencian seperti ini tidak meningkat ke kasus yang ekstrim. Yah gimana, di negara ini, setiap orang punya akses untuk beli senjata api.

Terusterang saya gak ada ide gimana caranya memutus kebencian yang sudah bulat seperti ini. Diskusi sudah gak ada abisnya tapi sepertinya sulit merubah pandangan seseorang.

Apakah kalian pernah mengalami atau melihat kasus diskriminasi karena kebencian? Apa yang kalian lakukan menanggapi kejadian tersebut?

 

 

 

Advertisements